Bersama Anak-anak Merawat Bumi dan Lestarikan Tradisi Budaya – Puncak Peringatan Hari Anak Sedunia

Yuliati Umrah
Direktur Executive ALIT Indonesia

15 December 2018

Peringatan hari Anak sedunia yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB dan selanjutnya peringati setiap tanggal 20 November di seluruh dunia merupakan rangkaian aksi dunia dalam mencegah segala bentuk kekerasan dan penyakahgunaan pada anak. Hal ini menjadi gerakan untuk terus mengepresiasi seluruh aktivitas yang mendukung upaya melindungi hak-hak anak agar dapat terus tumbuh dalam lingkungan yang baik.

ALIT telah mempelopori kahirnya koalisi nasional STOP Child Abuse di Indonesia sejak tahun 2005 dan terus melakukan kampanye ini setiap tahun sekaligus merayakan puncaknya di setiap peringatan hari Anak Sedunia. Koalisi terdiri dari 36 organisasi di 13 Kota (Surabaya, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Sumenep, Boyolali, Maumere, Kupang, Lombok Barat, Lombok Utara, Semarang, Gianyar , DKI Jakarta).

Tahun ini ALIT bersama sahabat koalisi memperingati Hari Anak Sedunia dengan mengambil tema “Bersama anak-anak Merawat Bumi dan Lestarikan Tradisi Bangsa”. Tema ini sengaja diambil mengingat tahun ini peristiwa Bencana alam dan terus memburuknya situasi anak-anak dan remaja akibat “kapitalisasi” gaya hidup yang menjadi menjadi virus dimana beberapa gaya hidup tersebut merusak mental anak. Kerusakan lingkungan beriringan dengan memburuknya kondisi mental anak- anak. Penggundulan hutan yang beralih fungsi menjadi hotel dan resort, pertanian umur pendek serta pembangunan wilayah industri di berbagai wilayah tanpa mempertimbangkan dampak ekologi. Situasi tersebut membawa pada situasi beresiko di banyak titik, tak Hanya soal banjir, longsor, bencana kekeringan hingga meningkatnya panas Bumi yang berdampak kejadian gempa Bumi hingga tsunami di berbagai wilayah. Serangkaian kejadian bencana beriringan pula dengan merebaknya kasus-kasus penyalahgunaan Narkotika, pernikahan usia dini, keterlibatan anak dalam Sex tourism, pembunuhan antar remaja, kecelakaan lalu lintas akibat penggunaan kendaraan bermotor oleh anak-anak, semakin muda usia penderita HIV akibat pergaulan bebas/sex bebas, berbagai penyakit akibat makanan instan maupun yang mengandung toksin makin menjalari anak-anak di usia semakin muda.

Hal ini menjadi refleksi kita semua bahwa masa depan bangsa mau tak mau semakin terancam, Karena anak-anak akan hodup dalam ancaman bencana alam pun demi,ian dengan kerusakan lingkungan manusianya. Bonus demografis yang kini dimililki bangsa ini secara perlahan akan berubah menjadi bencana demografi apabila kedua situasi di atas tak segera kita benahi.

Baca Juga:   Mahasiswa Harus Bisa Atasi Masalah Sosial Melalui Socioprenership

Kesadaran mencintai lingkungan dan melestarikan tradisi budaya menjadi salah satu upaya untuk memulai menyelamatkan masa depan bangsa bahkan seluruh dunia. Yayasan ALIT telah membuka wilayah pendampingan bagi lingkungan dan anak- anak di berbagai wilayah di Indonesia ini melalui beragam bentuk seperti membangun sekolah pusat-pusat pendidikan dan kegiatan penegmbangan minat bakat yang berbasis pada kekayaan ragam hayati dan budaya melalui cara cara yang menyenangkan danterus mewarnai waktu waktu dan hari hari anak-anak sejak usia baluta hingga usia 18 tahun.

Salah satunya Adalah dengan mendirikan Pusat Pendidikan Konservasi dan Budaya untuk anak di Lereng Bromo. Aktivitas menanam benih tanaman endemik di lereng-lereng yang telah gundul bersama para aktivis penggerak hutan di desa masing- masing yang tergabng dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang difasilitasi oleh Perhutani untuk mengembalikan fungsi hutan dimana anak-anak berperan dalam menabung bibit (bank bibit), belajar bertani organik dilakukan di sepanjang lereng Bromo. Di Wilayah hutan, juga menjadi pusat kegiatan anak-anak bermain dan berkegiatan budaya seperti berlatih menari dan memainkan gamelan. Menanam pohon, merawat sumber-sumber air, serta berlatih beragam seni dan budaya tradisi Tengger membawa anak-anak serta keluarganya kembali menghidupkan nilai-nilai Tradisi yang penuh dengan kearifan lokal. Seperti Ruwat alas dan keduri alas, dimana tradisi syukuran mulainya musim penghujan dan berharap hutan dapat menyimpan persediaan air. Hal ini menandakan bahwa tradisi ini seharusnya terus dilestarikan agar warisan kearifan budaya ini menjadi bagian hidup masyarakat Tengger yang beberapa deade ini sudah mulai ditinggalkan.

Bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Anak Sedunia ini, ALIT bekerjasama dengan masyarakat suku Tengger bersepakat memberikan hadiah sebuah gedung sekolah bagi anak-anak yang tinggal di salah satu dusun paling terpencil di Bromo yakni dsn, Ketuwon desa Ngadiwono kec Tosari sebagai bentuk dukungan bagi anak-anak untuk menikmati pendidikan dasar dan kesadaran warga Tengger agar anak-anak dapat terus meningkatkan kemampuan dan ketrampilan yang dapat memajukan warganya memanfaatkan sumber-sumber ekonomi tanpa harus merusak alamnya. Gedung sekolah yang dapat digunakan sebagai pusat pendidikan informal, pengembangan pengetahuan konservasi alam serta seni budaya diharapkan dapat menjadi bagian penting di desa tersebut untuk menjadi bagian dalam pariwisata andalan Jawa Timur yang tak hnay berpusat pada panorama keindahan sunrisenya.

Baca Juga:   Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat “Disruption”

Begitu pula di Desa Andonosari, kec. Tutur di dalam hutan lindung dimana sumber air utama warga desa yakni Sumber Gentong, ALIT membangun pusat pendidikan konservasi dan Budaya untuk anak dengan merangkul Lmbaga masyarakat desa hutan (LMDH) sebagai penggerak lokal dan Perhutani sebagai penyedia lahannya.

ALIT juga telah membangun kesadaran serupa dengan beragam aksi aksi kemanusiaan yang berpusat pada membangun kesadaran anak, keluarga dan lingkungan tentang penyelamatan lingkungan, melestarikan tradisi yang penuh dengan kearifan lokal di wilayah pulau-pulau terpencil seperti di pulau Gilingan Sumenep dengan konservasi bawah laut Serta pendidikan mitigasi bencana untuk para siswa. Pun demikian dengan anak-anak di perkotaan yang mulai kembali menyenangi permainan/dolanan tradisional dan aktf serta dalam olahraga tradisional, berkebun (urban farm) serta pemanfaatan sampah menjadi barang-barang kerajinan.

ALIT berharap bahwa di setiap peringatan Hari Anak sedunia kita semua menjadi sadar tenang masa depan bangsa ini serta dunia sangat bergantung pada anak-anak yang kini menjadi tanggung jawab kita. Masa depan mereka untuk dapat menikmati kehidupan yang baik juga bergantung pada lignkungan hayati yang harus terus dijaga agar bencana alam yang mengancam dapat terus ditekan resikonya serendah mungkin.

Terimakasih pada seluruh pendukungan gerakan ini. In solidarity