Profesi: Urban Designer!

Dalam seri “Profesiku”, kamu bisa kenalan dengan berbagai profesi, lewat cerita para senior yang menekuninya. Kali ini, yuk, kenalan dengan profesi Senior Urban Designer bersama Aryo Kuncoro!

Aryo Kuncoro, ST, M.Ars, alias Aryo, adalah seorang Senior Urban Designer di PT. AECOM Indonesia. Aryo adalah lulusan S1 Universitas Trisakti‍ jurusan Arsitektur‍, dan lulusan S2 Universitas Indonesia‍ jurusan Urban Design. Mungkin kamu belum familiar, ya, dengan profesi urban designer itu pekerjaannya seperti apa. Makanya, yuk, kita cari tahu lewat Kak Aryo!

Profesiku:

“Saya adalah seorang Urban Designer. Pekerjaan utama saya adalah merancang kota, bagian kota, dan hubungan antar bangunan di perkotaan. Ukurannya bisa sangat beragam. Bisa mulai dari sebuah ruang publik di sudut perkotaan yang luasnya hanya beberapa meter persegi, hingga master plan sebuah kota mandiri yang luasnya ribuan hektar.

Kota Pantai Indah Kapuk 2, Citraland Samarinda, dan Jakarta Garden City adalah beberapa contoh karya saya. Saya juga pernah beberapa kali membantu pemerintah melakukan penataan kota, agar warga bisa beraktivitas dengan lebih nyaman.

Dalam mewujudkan sebuah master plan, saya dituntut untuk bisa bekerja sama sebagai sebuah tim. Soalnya, untuk mewujudkan master plan yang bisa dieksekusi dengan baik, nggak hanya butuh seorang master planner atau urban designer, tetapi juga diperlukan transportation engineer, infrastructure engineer, environment engineer, economist, construction engineer, dan masih banyak lagi.

Singkatnya, pekerjaan saya ini sangat multi disiplin, dan ada banyak hal seru yang saya dapatkan selama berkolaborasi dengan bidang keilmuan lain.

Tugasku sehari-hari:

“Saat mengerjakan sebuah proyek yang melibatkan berbagai bidang ilmu, seorang urban designer biasanya ditunjuk sebagai pimpinan tim. Jadi, selain harus punya skill teknis, seorang urban designer juga harus punya skill kepemimpinan dan manajemen proyek.

Di kantor, selain sebagai urban designer, saya bertugas sebagai project manager. Jadi saya yang memimpin tim sebuah proyek. Dalam job desc proyek saya yang terakhir, saya juga bertugas untuk mengelola jalannya proyek tersebut dari awal sampai akhir, mulai dari persiapan proposal, budgeting, jadwal, hingga mengatur alokasi anggota tim, tentunya sambil tetap berperan sebagai seorang designer juga. Seru deh, karena harus pandai multitasking.

Intinya, di level pekerjaan saya sekarang ini, peran saya sudah lebih ke arah ke peran manajemen atau manajerial, nggak hanya sebagai pelaku teknik desain lagi. But I still love designing very much!”

“Modal” yang perlu dimiliki untuk menjalani profesi ini:

“Seorang Urban Designer harus memiliki wawasan yang luas dan multidisiplin, alias mengerti beberapa bidang ilmu. Soalnya sebuah kota ‘kan terdiri dari berbagai aspek. Nggak hanya aspek teknis, namun juga aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, dan banyak lainnya. Jadi kita harus update terus dengan perkembangan masyarakat.

Misalnya, kalau tren masyarakat sekarang ini adalah bepergian pakai ojek online, hal tersebut akan berpengaruh, tuh, ke desain perkotaan.

Baca Juga:   Garmin Instinct, Jam Tangan GPS yang Tangguh untuk Para Outdoor Adventure Enthusiast

Saya kasih contoh lain, yang berkaitan dengan aspek ekonomi, ya. Jadi, pasar properti ‘kan sangat terpengaruh dengan kondisi ekonomi suatu negara. Nah, ketika kemarin ini pertumbuhan ekonomi dunia sempat melambat, hal tersebut ngaruh banget, lho, sama bisnis penjualan properti.

Daya beli masyarakat jadi ikut menurun, sehingga mereka cenderung beli rumah yang murah-murah, di pinggiran kota, dan ukurannya lebih kecil. Tren seperti itu ‘kan jadi berpengaruh kepada desain rumahnya dan produk apa yang bisa dijual oleh developer.

Oiya, karena seorang urban designer harus menguasai berbagai bidang, kita harus rajin baca koran, baca buku, browsing, dan yang paling seru, harus sering jalan-jalan! Tujuannya agar kita ter-update tentang perkembangan perkotaan masa kini, biar nggak masa gitu, hehehe.

Kalau nggak sempat jalan-jalan, saya biasanya “jalan-jalan” virtual dengan browsing, atau lewat Google Street View. Ya, seenggaknya saya jadi masih bisa melihat, kira-kira bentuk kota-kota lain tuh seperti apa.

Karena jadi urban designer, saya pernah menginjakkan kaki mulai dari ujung timur Indonesia hingga ujung barat, lho. Nggak cuma buat jalan-jalan, tapi juga berkontribusi membangun perkotaan Indonesia. Cool ‘kan?

Kadang ada yang bertanya ke saya, arsitek atau urban designer itu banyak yang perfeksionis, ya? Mau nggak mau memang begitu, sih. Soalnya sejak kuliah, mahasiswa arsitektur diajarkan untuk selalu memenuhi standar dan peraturan yang baik. Jadi kalau kita nggak memenuhi standar itu, rasanya duh, gimanaaa… gitu. Kadang karena ingin mendapat hasil yang perfect, kita sering terlalu menikmati proses mendesain, hingga larut malam. Tapi so far saya enjoy, kok. Ada kepuasan batin tersendiri kalau melihat karya kita nanti terbangun dan dimanfaatkan orang. Rasanya priceless.”

Tahapan untuk mencapai posisi sekarang:

“Kalau bekerja dalam suatu perusahaan, seorang fresh graduate biasanya mulai dari menjadi Urban Designer 1, lalu menjadi Urban Designer 2, lalu Urban Designer 3, kemudian baru jadi Senior Urban Designer seperti saya. Tapi kalau kamu sudah punya pendidikan S2 saat masuk dunia kerja, pertimbangannya bisa berbeda, lho.

Selain kuliah, ada banyak pelatihan-pelatihan dan seminar yang bisa kita ikuti, baik di skala nasional maupun internasional. Ini bisa jadi salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan kita. Apalagi acara-acara seperti itu bagus untuk menambah networking kita.

Kenapa, sih, memilih profesi ini?

“’Ruang antara’ bangunan-bangunan di perkotaan adalah bagian kota yang paling banyak dilewati oleh manusia. Maksud dari “ruang antara” ini adalah ruang antar gedung. Misalnya, jalanan, trotoar, atau gang.

Sayangnya ‘ruang antara’ di perkotaan Indonesia masih banyak yang belum terdesain dengan baik. Sehingga saya merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam mendesainnya.

Saya tertarik bekerja di bidang Urban Design supaya saya bisa membawa manfaat untuk lebih banyak orang. Kalau saya mendesain sebuah bangunan, mungkin saya membawa manfaat untuk orang-orang dalam kapasitas gedung itu saja. Misalnya, paling banyak 100 sampai 1000 orang. Tetapi kalau saya mendesain ‘ruang antara’ atau ruang publik, saya bisa membawa manfaat untuk setiap orang yang melewati atau menggunakan ruang-ruang tersebut. Bisa jutaan orang, kali. Lebih banyak ‘kan yang merasakan manfaatnya?

Baca Juga:   Jadilah Pengguna Media Sosial yang Cerdas dengan 5 Tips Ini

Memang, sejak kuliah, cita-cita saya adalah mencari tahu masalah perkotaan apa yang ada di sekitar saya, dan saya ingin berkontribusi dengan solusi. Sesimpel itu, sih. Dan hal tersebut bisa saya lakukan lewat Urban Design.”

Proyek paling berkesan yang pernah dikerjakan sejauh ini:

“Proyek paling berkesan adalah proyek yang sedang saya lakukan sekarang, yaitu melakukan desain Transit Oriented Development dan Visioning Kota Bogor. Nggak hanya dalam ruang lingkup Kota Bogor, tetapi juga Kota Kabupaten.

Proyek ini berkesan karena dari dulu saya memang kepengen banget memberi manfaat lebih banyak kepada kota Bogor. Saya tinggal di Bogor, dan saya merasa kota ini punya banyak banget masalah, dan saya tinggal di tengah-tengah masalah ini. Saya ingin menjadi bagian dari solusinya. Proyek Bogor ini saya kerjakan dengan energi dan passion yang tinggi. Pokoknya kalau pakai passion, mengerjakan sesuatu pasti jadi jauh lebih seru.”

Apa, sih, hal yang paling disukai dari profesi ini?

“Ada tiga hal yang paling saya suka dari profesi ini: kerjaanya nggak monoton karena banyak gambar warna-warni, bisa banyak jalan-jalan ke daerah yang nggak terduga, dan jadi sering berkesempatan bertemu dengan orang-orang penting di Indonesia, mulai dari walikota hingga CEO perusahaan-perusahaan besar yang menjadi klien saya.

Saya bisa curi-curi ilmu juga, lho, dari mereka. Soalnya ebagian besar dari mereka mau kok, sharing ilmunya.”

Tips untuk anak-anak muda yang ingin bekerja di profesi ini:

“Indonesia butuh banyak urban designer muda. Ada ratusan kota yang menunggu untuk mendapatkan sentuhan tangan seorang urban designer.

Tetapi sebelumnya, pastikan dulu bahwa passion kamu ada di bidang ini, karena jika kita bergerak karena passion, tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, dan tak ada laut yang terlalu luas untuk diseberangi. Semua nampak ringan dan menyenangkan untuk dikerjakan.

Selain itu, jangan malu untuk bertanya dan diskusi dengan orang yang sudah bergelut di dunia ini. Temukan cerita-cerita menarik dari mereka. Caranya, sering-sering, deh, datang ke acara-acara kreatif atau mungkin juga berjejaring di media sosial. Orang-orang di bidang urban design ini pada umumnya orang-orang yang memang passionate di bidangnya. Gali lebih banyak ilmu untuk memperkaya diri kamu dulu, sebelum melangkah lebih jauh. Sampai jumpa di dunia urban design! Victoria, Concordia, Crescit!”

(sumber gambar: dok. pribadi Aryo Kuncoro)

Leave a Reply